Sabtu, 01 November 2014
Follow Us:
Sabtu, 09 Agustus 2014 - 06:35 WIB
Saksi Diledek Hakim MK, Tim Prabowo-Hatta Kecewa
Jumat, 08 Agustus 2014 - 11:33 WIB
Kenapa Megawati & Rachmawati Tak Pernah Akur di Politik?
Jumat, 08 Agustus 2014 - 11:30 WIB
KPU: Hitungan Klaim Menang Prabowo-Hatta Tak Jelas
11:30 WIB - Rajin Makan Ikan Dijamin Awet Muda & Bebas Kegemukan | 11:30 WIB - Pilihan Kita dan Takdir Allah | 11:30 WIB - Jilboobs Muncul Karena Berhijab Tidak Dari Hati? | 11:30 WIB - Jokowi: Saya Ini Tipikal Petarung | 11:30 WIB - Jokowi Jangan Cuma Janji Manis Doang | 11:30 WIB - Saat Performa Seks Pasangan Kurang Memuaskan, Ini Cara Halus Menegurnya
/ Politik / Kisah Para Caleg, dari Pedagang Bubur Hingga Kasir Cantik /
Kisah Para Caleg, dari Pedagang Bubur Hingga Kasir Cantik
Kamis, 13 Februari 2014 - 15:39:18 WIB
Mereka tak berpendidikan tinggi, apalagi modal besar. Namun bertekad maju jadi calon legislatif di Pemilu 2014.
TERKAIT:

Jakarta - Beragam cara dilakukan para calon anggota legislatif (caleg) untuk lebih dekat dengan masyarakat jelang Pemilu legislatif yang digelar pada 9 April mendatang. Sayang, kebanyakan cara yang biasa dilakukan para caleg terkesan elitis dan jauh dari empati masyarakat. Jarak membuat pemilih cepat melupakan mereka.

Namun, belakangan muncul caleg-caleg dari kalangan biasa yang siap bertarung merebut hati rakyat bersaing dengan calon lain yang mapan ekonomi. Mereka bukan datang dari kalangan pendidikan tinggi, modalpun seadanya. Namun mereka tak gentar.

Hanya modal nekat. Itu yang dilakukan Rinawati (22), seorang kasir Stasiun Pengisian Bahn Bakar Umum (SPBU) di Tulang Bawang, Lampung, untuk maju sebagai calon legislatif dalam bursa pemilihan calon anggota dewan perwakilan daerah.

Gadis cantik yang dalam kesehariannya mengenakan hijab ini memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai kendaraan politiknya menuju kursi legislatif. Ia tercatat sebagai caleg termuda di daerah pemilihan Tiga Rawa Pitu, Penawar Tama, Tulang Bawang, Lampung.

Bahkan, Rina mengaku nyaris tidak lolos dalam verifikasi daftar calon tetap KPU karena terbentur umur yang masih muda. "Waktu saya daftar di KPU, saya nyaris saja tidak lolos. Untung saya lahir pas bulan dua, jadi umur saya cukup. Alhamdulillah saya bisa masuk," tutur gadis lajang ini, Rabu 12 Februari 2014.

Rina berharap bisa menjadi seorang anggota dewan untuk membantu masyarakat kecil dalam menyampaikan aspirasinya. "Saya nekat saja, mudah-mudahan bisa," katanya.

Tak jauh berbeda dengan Mea, pedagang bubur ayam di Pasar Andir, Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut ini juga terdaftar sebagai calon anggota DPRD Garut dari Partai Nasdem.

Pria 35 tahun itu maju sebagai calon nomor urut 5 dari daerah pemilihan Garut II yang meliputi 9 kecamatan yakni Bayongbong, Cigedug, Cisurupan, Sukaresmi, Cikajang, Banjarwangi, Singajaya, Cihurip, dan Peundeuy.

Niat Mea menjadi caleg tak lain untuk memperbaiki derajat dan kehidupan pedagang kaki lima yang lebih baik. Mea mengaku prihatin, terutama para PKL yang nasibnya tak jelas karena selama ini dipandang sebagai pedagang yang dianggap mengganggu ketertiban umum.

"Inginnya para PKL ini ditempatkan di lokasi yang layak agar bisa tenang berusaha dan tidak lagi dianggap pengganggu ketertiban umum," katanya.

Kesempatan berjualan bubur ayam menjadi salah satu cara bagi Mea untuk mensosialisasikan diri kepada warga agar nanti pada Pemilu legislatif mendatang memilih dia. "Biasanya sekitar 30 orang merupakan pelanggan yang rutin membeli bubur, kemudian selebihnya hingga 20 orang merupakan pelanggan baru," katanya.

Sambil bersenda gurau menyantap bubur buatannya, Mea mengajak pelanggan bertukar pikiran soal pembangunan di Garut. "Sekalian sosialisasi pencalonan saya."

Selain sosialisasi lisan, Mea juga menyebar stiker dan kartu nama. "Ada 10 kursi yang diperebutkan, mudah-mudahan salah satunya saya," kata Mea.

Cara itu dianggap Mea cukup efektif. Dengan standar modal yang dimilikinya, tentu baliho dan spanduk besar bergambar wajahnya hanya ada di angan-angan.

Serba pas-pasan

Memiliki profesi sama dengan Mea, Huduriah Kokam, pedagang sayur dan kerupuk asal Pollewali Mandar, Sulawesi Barat ini punya tekad kuat mengubah nasibnya. Meski cuma pedagang kecil dengan modal pas-pasan, Kokam nekat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif kabupaten. Huduriah maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Polewali periode 2014-2019 dari Partai Bulan Bintang.

Rekannya sesama pedagang memberi dukungan penuh. Tekadnya kian membuncah. Sosialisasi kian rajin dilakukan Huduriah dan rekannya yang tulus membantu.

Di tengah keramaian pasar, sambil berdagang, Huduriah juga melakukan sosialisasi. [Baca selengkapnya disini]

Setelah dagangannya ludes, ia tidak pulang ke rumah, tapi 'kampanye' dulu di sekitar pasar. Untuk membuat stiker dan kartu nama, Huduriah menyisihkan keuntungan hariannya dari menjual sayur.
 
"Saya berjanji akan memperjuangkan nasib pedagang kecil dan warga miskin kalau jadi anggota DPRD. Kemiskinan bukan jadi penghalang demi memperjuangkan masyarakat lemah dan pedagang kecil," kata Huduriah. Ia juga bertekad meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk masyarakat miskin.

Caleg yang satu ini juga hanya punya modal pas-pasan. Namun, tak menyurutkan hasratnya untuk menang dalam Pemilu legislatif April mendatang. Dia adalah Muhammad Arifunnajih, seorang sopir ambulans di salah satu rumah sakit di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Arif, begitu dia disapa, nekat maju menjadi calon legislatif dari Partai Nasdem. Di beberapa kesempatan, Arif tidak pernah lupa tebar pesona dan aktif membagikan stiker yang bergambar dirinya kepada keluarga pasien yang sedang menunggu keluarganya di rumah sakit.

Kepada keluarga pasien, Arif berjanji akan memperjuangkan biaya kesehatan gratis bagi warga miskin jika dia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Jember itu. Arif yang tinggal di Dusun Gumuk Banji, Desa Kencong, ini sudah menjadi sopir ambulans sejak tahun 2009 dengan gaji Rp30-50 sekali antar jemput pasien.

Dengan gaji pas-pasan itu, Arif tidak takut bersaing dengan calon legislatif lainnya. "Meski maju dengan modal seadanya, saya berjanji pada pemilih untuk tidak korupsi," kata Arif.

Maraknya calon legislatif dengan profesi biasa dan gaji minim ini ternyata mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat. Mereka bahkan tidak mempermasalahkan kemampuan para caleg itu dalam dunia politik.

"Saya yakin kalau caleg dengan profesi biasa akan benar-benar memperjuangkan dan membela nasib rakyat kecil," kata Suprapto, salah satu keluarga pasien.

Kostum pendekar 'dapil neraka'

Cara unik dilakukan Murti Sari Dewi, artis lawas pemeran Lasmini dalam film Saur Sepuh. Caleg DPR RI Partai Gerindra nomor urut 3 untuk Dapil Jawa Tengah V ini memulainya dengan berkeliling pasar tradisional dengan mengenakan kostum ala pendekar.

Murti mensosialisasikan pencalonannya di Pasar Kleco Solo dengan kostum pendekar lengkap layaknya busana yang dulu dikenakannya saat memerankan Lasmini dalam film Saur Sepuh. Cara tak biasa ini dilakukan Murti mengingat dia akan bertarung di dalam daerah pemilihan (dapil) yang disebut sebagai 'dapil neraka', karena sejumlah nama pesohor, termasuk politisi berlatar belakang artis, atlet, sampai politisi ternama mencalonkan diri dari daerah yang mewakili Klaten.

Dalam sosialisasinya itu, ia membagikan sejumlah kalender yang bergambar dirinya lengkap dengan nomor urut serta dengan latar belakang poster film Saur Sepuh.

Dengan kostum seperti itu, Murti pun berhasil menarik perhatian para pedagang dan pembeli di pasar tradisional itu. Bahkan, mereka pun berebut sekadar untuk berjabat tangan maupun berebut mendapatkan kalender.

Dalam kesempatan itu, Murti mengatakan, sosialisasi dengan cara seperti ini dilakukan supaya masyarakat mengingat, ia dulu pernah menjadi pemeran Lasmini dalam film Saur Sepuh. "Masyarakat tahu kalau saya yang dulu pernah menjadi Lasmini ikut maju menjadi caleg dari Partai Gerindra," kata dia, Rabu 12 Februari 2014.

Oleh sebab itu, ia berencana terus mengenakan kostum Lasmini selama melakukan sosialisasi di sejumlah tempat di Dapil Jawa Tengah V yang meliputi Solo, Sukoharjo, Boyolali dan Klaten. "Kalau dengan mengenakan kostum pendekar Lasmini baru pertama kali hari ini. Sedangkan sebelumnya lebih sering menggunakan pakaian biasa," katanya.

Sosialisasi ini,  bertujuan untuk mendekatkan dirinya dengan para calon konstituen, mengingat terjun di partai politik merupakan pengalaman baru bagi dirinya. "Jika tidak kenal maka tak sayang, sehingga saya akan terus melakukan sosialisasi untuk lebih dekat dengan masyarakat," ucapnya.

Di Dapil Jawa Tengah V, Murti Sari Dewi akan bertarung langsung dengan putri mahkota PDIP, Puan Maharani. Pasalnya, putri Megawati Soekarnoputri itu juga menjadi caleg PDIP nomor urut 1. Tak hanya itu, di dapil tersebut juga ada artis lain, seperti Angel Lelga, caleg PPP dan Tia AFI, caleg PKB.

Kini hak pilih ada di tangan masyarakat. Apakah memilih caleg berpendidikan tinggi dan bermodal besar, atau caleg dari kalangan biasa yang nekat tapi punya tekad untuk berkontribusi ke masyarakat? (viva)

Berita Lainnya :
  • Rajin Makan Ikan Dijamin Awet Muda & Bebas Kegemukan
  • Pilihan Kita dan Takdir Allah
  • Jilboobs Muncul Karena Berhijab Tidak Dari Hati?
  • Jokowi: Saya Ini Tipikal Petarung
  • Jokowi Jangan Cuma Janji Manis Doang
  • Saat Performa Seks Pasangan Kurang Memuaskan, Ini Cara Halus Menegurnya
  • Ini Dia Keuntungan Memiliki Pasangan Posesif
  • Saksi Diledek Hakim MK, Tim Prabowo-Hatta Kecewa
  • City Tanggapi Duel Lawan Arsenal dengan Serius
  •  
    Komentar Anda :
       
    Redaksi | Pedoman Berita | Disclaimer | Kotak Pos | Index | EPaper | Email
    Copyright © 2012-2014 beritaazam.com - Portal Anak Zaman - Referensi Politik Anak Negeri
    Online Pertama : 15 Mai 2012