Jum'at, 18 April 2014
Follow Us:
/ / /
Dampak Hukuman Badan Terhadap Siswa
Jumat, 25 Mei 2012 - 15:59:06 WIB


Secara psikologi, kekerasan terhadap siswa ini akan mempengaruhi kejiwaan anak. Seringnya guru menghukum siswa dengan memukul, menempeleng, mencubit dan bentuk hukuman fisik lainnya. Hal tersebut dilakukan seorang guru dengan maksud untuk memberikan efek jera terhadap siswa. Tetapi, terkadang berlebihan sehingga sering diberitakan pada surat-surat kabar maupun televisi. Hal tersebut membuat image guru menjadi tercemar, padahal tidak sedikit guru yang berpredikat guru favorit dan disukai siswanya.

Ada kalanya seorang guru memang dirasa perlu membuat aturan-aturan yang intinya mengajari siswa supaya dapat belajar disiplin. Masalah kadang kerap timbul, apabila batasan-batasan tersebut diterapkan kepada siswa yang memiliki kepribadian berbeda dengan teman sebayanya. Berbeda disini maksudnya memiliki perilaku yang lebih sulit dibina dibanding anak-anak lainnya.

Berdasarkan keterangan Psikolog Violetta, hukuman fisik terhadap anak tidak akan membuat anak jera. Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan, jika ingin memberikan hukuman kepada anak. “ Masih banyak metode non-hukuman badan yang bisa kita terapkan kepada anak seperti metode time out. Contonya mengurung anak dalam ruangan yang kurang nyaman baginya selama beberapa menit. Atau anak diminta mengerjakan sesuatu yang kurang menyenangkan baginya, misalnya membersihkan kamar mandi, menyapu, dan lain-lain,” terangnya.

Menurutnya kekerasan yang terjadi pada siswa di sekolah dapat mengakibatkan berbagai dampak fisik dan psikis. Dampak fisik, sudah jelas mengakibatkan organ-organ tubuh siswa mengalami kerusakan seperti memar dan luka-luka. Dampak psikologisnya, siswa akan trauma, ada rasa takut, tidak aman, juga dendam, menurunnya semangat belajar, serta menurunnya rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, dampak ini bisa terlihat dari penurunan prestasi dan perubahan perilaku.

Apalagi dampak sosial, kata Violetta siswa yang mengalami tindakan kekerasan tanpa ada penanggulangan, bisa saja menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena takut merasa terancam dan merasa tidak bahagia berada diantara teman-temannya. Mereka juga jadi pendiam, sulit berkomunikasi baik dengan guru maupun dengan sesama teman. Bisa jadi mereka jadi sulit mempercayai orang lain, dan semakin menutup diri dari pergaulan.

Jangan kuatir, lanjutnya ada solusi yang bisa dilakukan. Seperti sekolah menerapkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah. Hukuman yang diberikan, berkorelasi dengan tindakan anak. Ada sebab ada akibat, ada kesalahan dan ada konsekuensi tanggung jawabnya. Selain itu, sekolah juga bisa memberikan pendidikan psikologi pada para guru untuk memahami perkembangan anak. Dengan pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.

Kemudian bagi orangtua, perlu juga lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam memilihkan sekolah untuk anak-anaknya agar tidak mengalami kekerasan di sekolah. Menjalin komunikasi yang efektif dengan guru dan sesama orang tua murid untuk memantau perkembangan anaknya. Dan orangtua juga menerapkan pola asuh yang lebih menekankan pada dukungan daripada hukuman, agar anak-anaknya mampu bertanggung jawab secara sosial

Bagi siswa yang mengalami kekerasan, Violetta menyarankan segera sharing pada orangtua atau guru atau orang yang dapat dipercaya mengenai kekerasan yang dialaminya sehingga siswa tersebut segera mendapatkan pertolongan untuk pemulihan kondisi fisik dan psikisnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua pihak, baik guru, orang tua dan siswa untuk memahami bahwa kekerasan bukanlah solusi atau aksi yang tepat, namun semakin menambah masalah.

“Perlu diingat, bahwa untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan kerjasama dari semua pihak,” tegasnya.Hes

Berita Lainnya :
  • PPP Nilai Koalisi Partai Islam Bisa Dahsyat
  • Ini Penjelasan Amien Rais Soal Usul Nama Koalisi Indonesia Raya
  • Mengapa JK, Din, dan Said Aqil Tak Hadiri Pertemuan Parpol Islam?
  • Penyuluhan Tim Diklat Damkarbunla Disambut Gembira Sekolah
  • Subsidi Listrik & BBM Sudah Dimulai Sejak 1970
  • RI Tak Berdaya Saat Freeport Ogah Setor Dividen
  • Orang Indonesia Habiskan Rp 17 Triliun Buat Jajan
  • Ketika Rasa Peduli Tidak Ada Lagi di Angkutan Umum
  • Dari Modal Rp 280.000, Ari Kini Jadi Juragan Seragam Militer
  •  
    Komentar Anda :
       
    Redaksi | Pedoman Berita | Disclaimer | Kotak Pos | Index | EPaper | Email
    Copyright © 2012-2014 beritaazam.com - Portal Anak Zaman - Referensi Politik Anak Negeri
    Online Pertama : 15 Mai 2012