Di Depan Tim Badan Bahasa Kemendikbud, Kunni Beberkan Perjuangan Rumah Sunting

Beritaazamcom, Pekanbaru – Perwakilan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kendikbud) RI berkunjung ke basecamp Komunitas Seni Rumah Sunting di Perumahan Delima Puri, Tobek Godang, Pekanbaru, Jumat (5/8/2022). Kedatangan tim Badan Bahasa ini untuk mendata eksistensi komunitas sastra di Riau.

Hal ini disampaikan salah aatu tim Badan Bahasa,  Leni Mainora SS MPd secara langsung begitu sampai dan duduk di Basecamp Rumah Sunting.

“Maksud kedatangan kami untuk melihat secara dekat dan mendata eksistensi komunitas-komunitas sastra di Riau, apakah bertahan atau sudah banyak yang tidak aktif lagi. Kalau masih aktif, apa yang dilakukan sehingga bisa bertahan. Ini akan menjadi catatan kami untuk merancang program-program tahun berikutnya,” kata Leni.

Leni datang dengan rekannya, Achmad Fadjri SE. Usai memgajukan beberapa pertanyaan, salah satunya tentang program kegiatan, pendanaan, sumber dana dan lainnya, ia mendokumentasikan suasana pertemuan dan prestasi-prestasi yang diraih Rumah Sunting sejak 2012 sampai sekarang. Puluhan piagam penghargaan, berjejer di dinding basecamp sederhana tersebut.

Sebelum datang, tim Badan Bahasa melalui Balai Bahasa Riau sudah menyerahkan link terkait data komunitas untuk diisi. Ada 31 pertanyaan di dalam link ini. Semua tentang keberadaan komunitas sastra.

“Sampai sekarang kami belum pernah mendapatkan bantuan dana dari pemerintah. Dana APBD lo ya, kalau dalam bentuk lain seperti fasilitas, penerbitan buku, ada. Setiap tahun kami merayakan Hari Puisi di Riau.  Pernah di Siak. Penyair dan sastrawan datang dari berbagai provinsi dan mancanegara. Pemkab Siak memfasilitasi banyak hal,” kata Kunni, Pimpinan sekaligus Pembina Rumah Sunting yang didampingi Ketua Harian Yanda Rahmanto, menjawab pertanyaan Leni.

Kunni juga menceritakan bagaimana Rumah Sunting selalu eksis dalam menjalankan program-programnya.

“Modalnya silaturrahmi, komunikasi. Membuat banyak kegiatan, menggandeng banyak pihak. Mulai tokoh muda, kepala desa, camat, atau siapa saja yang mau bersama-sama. Misalnya Literasi Konservasi yang kami giatkan, ini dilaksanakan dengan modal komunikasi, salah satunya dengan WWF Indonesia, mulai dari pendampingan di tiga desa sampai penerbitan buku. Program-program lain, dilaksanakan dengan iuran. Sewa beskem juga dengan iuran. Kalau menang lomba atau dapat hadiah, kita manfaatkan juga untuk keperluan bersama, termasuk sewa beskem,” sambung Kunni kembali menjawab pertanyaan Leni.

Rumah Sunting, sebut Kunni, memiliki beberapa bidang seni. Ada teater, sastra, tari, musik dan film. Beberapa bidang belum berjalan maksimal, salah satunya karena keterbatan alat dan.perlengkapan. Sedangkan bidang yang paling aktif saat ini yakni sastra.

“Berusaha bergerak terus, sebisanya untuk bersama-sama menjaga ekosistem seni, sastra dan budaya di Riau bersama teman-teman seniman dan satrawn lainnya,” sambung Kunni.

Khusus di bidang sastra, selain memiliki prorgam Literasi Konservasi, juga ada Kenduri Puisi, Tadarus Puisi, Penerbitan Buku Puisi, Teatrikal Puisi, Donasi Buku, Bengkel Puisi, Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI), Nongkrong Bertuah (Nongkah), Salam Puisi dll.

“Yang jelas, dalam berkegiatan, lebih banyak iuran dan sumbangan dari orang-orang baik hati. Khusus Literasi Konservasi  ini tak jauh-jauh dari karya berbasis lingkungan dan budaya, pelestarian lingkungan dan budaya, dan ini kami tuangkan dalam karya-karya, baik puisi, teatrikal, tari, literasi digital dan lainnya,” kata Yanda pula.

Irwanto, Perwakilan Balai Bahasa Provinsi Riau yang mendampingi tim Badan Bahasa menjelaskan, apa yang dilakukan Badan Bahasa bukan hanya sekedar pendataan. Tapi juga mencari fakta tentang eksistensi komunitas-komunitas sastra di Riau.

“Dari pendataan ini, semoga ada kabar baik untuk teman-teman Rumah Sunting dan beberapa komunitas lain yang dikunjungi. Mereka ingin melihat apa yang dibutuhkan teman-teman. Apa rak buku, penerbitan buku, sound system atau lainnya,” kata Irwanto.

Sebelum tim pulang, Kunni dan tim Rumah Sunting lainnya menyerahkan buku yang pernah diterbitkan komumitas ini. Antara lain, Mufakat Air (2018) Menderas Sampai Siak (Puisi, 2017), Kunanti di Kampar Kiri (Puisi, 2018), Rimbang Baling Dalam Puisi (Puisi, 2018), dan Puisi Para Pendaki (Puisi, 2020).

Begitu juga sebaliknya, Tim Badan Bahasa juga menyerahkan buku-buku yang pernah diterbitkan oleh Badan Bahasa, ada 38 judul. Selain Rumah Sunting, tim ini juga mendatangi komunitas sastra lain. Antara lain, Suku Seni, Selembayung, Forum Lingkar Pena (FLP) dan Rumah Sastra Riau. (*)