Dosen Prodi Budidaya Perairan Faperta UIR Lakukan PKM di Desa Pulau Baru Kuansing

Kegiatan pengabdian dosen Faperta UIR dilakukan dengan pola ceramah, FGD, pelatihan, dialog sekaligus pendampingan yang diikuti oleh kelompok tani, kelompok perikanan dan masyarakat. Foto:Istimewa

 

 

BeritaAzam.com, Kuansing – Sejumlah dosen Prodi Budidaya Perairan Faperta Universitas Islam Riau (UIR) melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Pulau Baru, Kenegerian Kopah, Kabupaten Kuantan Singingi, 11 Oktober 2022 silam.

Ada tiga kegiatan pengabdian yang dilakukan para dosen tersebut meliputi Pelatihan Akuakultur Berbasis Teknologi Akuaponik di Desa Pulau Baru Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau oleh Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Penerapan Aplikasi Teknologi Pembuatan Produk Ikan Salai Lele Dumbo Skala Rumah Tangga di Desa Pulau Baru Kecamatan Kuantan Singingi oleh Ir. T. Iskandar Johan, M.Si dan Restocking Ikan Sebagai Upaya Pelestarian Sumberdaya Aquatik Endemik Perairan di Desa Pulau Baru Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi oleh Ir. Muhammad Hasby, M.Si.

Kegiatan pengabdian ini dilakukan oleh para dosen perikanan tersebut dengan pola ceramah, FGD, pelatihan, dialog sekaligus pendampingan yang diikuti oleh kelompok tani, kelompok perikanan dan masyarakat.

Ketua Prodi Budidaya Perairan, Dr. Ir. Jarot Setiadi, M.Sc dalam acara tersebut mengabarkan, pihaknya merasa terpanggil berpartisipasi membantu memecahkan masalah budidaya perikanan dengan cara melaksanakan pengabdian kepada masyarakat setempat. Selain itu juga terdapat peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengembangkan pengelolaan usaha perikanan yang didukung kelembagaan petani seperti kelompok tani, karena dengan berkelompok akan dapat membantu petani dalam pengelolaan sarana produksi, adopsi teknologi serta pemasaran hasil perikanan tersebut.

Ir. T. Iskandar Johan, M.Sc memberikan penyuluhan mengenai aplikasi teknologi pembuatan ikan Salai lele Dumbo secara praktis dan mudah Target atau luaran yang ingin dicapai dari kegiatan pengabdian masyarakat ini. Diantaranya kegiatan pembuatan ikan salai lele dumbo, diharapkan membantu ketersediaan akan sumber protein hewani yang berasal dari ikan dapat terpenuhi, kemudian melalui usaha pengolahan ikan lele dumbo seperti menyalai ikan, masyarakat dapat meningkatkan pendapatan ekonomi mikro masyarakat.

Dikabarkan Iskandar, produk ikan salai lele dumbo kini semakin terus dikembangkan karena rasanya cukup enak dan gurih. Apalagi pemeliharaan ikan lele Dumbo sebagai sumber bahan baku ikan salai tidak terlalu sulit.

Sementara Fakhrunnas MA Jabbar memberikan materi tentang teknologi akuaponik yang merupakan gabungan teknologi akuakultur dengan teknologi hidroponik dalam satu sistem untuk mengoptimalkan fungsi air dan ruang sebagai media pemeliharaan. Teknologi tersebut telah dilakukan di negara-negara maju, khususnya yang memiliki keterbatasan lahan untuk mengoptimalkan produktifitas biota perairan.

Fakhrunnas selanjutnya menjelaskan, secara teknis, sistem akuaponik akan mampu meningkatkan kapasitas produksi pembudidaya ikan. Pada sistem ini, dapat dihasilkan dua komoditas yakni sayuran dan ikan. Budidaya sayuran, secara langsung akan didukung oleh sistem budidaya ikan yang menghasilkan sisa pakan dan kotoran yang mengandung unsur hara konsentrasi tinggi yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman di atasnya.

Sementara itu, media tanaman yang berada diatasnya akan menyaring air dan mempertahankan kualitas air yang berada dibawahnya. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas air kolam akan tetap baik, bebas dari sisa pakan dan kotoran ikan, sehingga akan mendorong pertumbuhan ikan menjadi baik.

Sedangkan, Ir. Muhammad Hasby melakukan pengabdian terkait penebaran benih ikan atau restocking ikan di danau desa tersebut. Dijelaskan, hal terpenting dari kegiatan penebaran ikan ini agar masyarakat menjadi lebih peduli untuk melakukan pelestarian sumberdaya alam hayati perairan secara berkelanjutan.

Selanjutnya, Hasby mengatakan, upaya-upaya yang sudah dilakukan dalam mengantisipasi keadaan ini sudah sering dilakukan oleh pemerintah baik dengan himbauan, sosialisasi dan tindakan hukum. Meskipun penangkapan ikan yang menggunakan alat-alat yang berbahaya dan dilarang bagi lingkungan air sudah jauh berkurang, akan tetapi dampak dari pemulihan sumberdaya hayati perairan aquatik akan berjalan lambat karena memerlukan waktu yang cukup lama dalam memperbaiki kondisi secara alamiahnya, oleh karena itu dirasa perlu untuk dilakukan restocking sumberdaya ikan agar segera terjadi perkembangbiakan sumberdaya ikan secara massal dan sumberdaya ikan menjadi pulih kembali.

Kades Pulau Baru, Mahyuddin menyambut baik kegiatan pengabdian masyarakat ini karena dapat menambah pengetahuan dan membuka wawasan masyarakat dalam kegiatan budidaya perikanan dan pengolahan ikan melaui pembuatan ikan salai.

“Masyarakat kelompok tani di desa kami merasa senang diberikan pelatihan, dan praktik perikanan ini. Kami berharap agar terus dilakukan pendampingan dan bantuan berupa bibit ikan, maupuan modal,” ujar Mahyuddin.*