Opini  

Literasi TBC Berbasis Komunitas Untuk Menggapai Eliminasi TBC Tahun 2023 di Pekanbaru

Dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2023, 19 Maret 2023. Yayasan Sebaya Lancang Kuning bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Riau dan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, mengadakan kegiatan di Care Free Day Pekanbaru.

Diantara tahun 2020-2022, COVID-19 telah menguras tenaga, waktu, dan perhatian Pemerintah, dunia usaha, dan berbagai lapisan masyarakat untuk bertahan di tengah pandemi. Kecepatan penyebaran SARS-Cov-2 mengharuskan banyak perusahaan gulung tikar dan memaksa layanan esensial, termasuk di sektor kesehatan terhenti. Sementara pandemi membuat kita tertekan, perkara penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) terus melaju dan berpotensi menambah beban penyakit di masyarakat.

Menurut Global TB Report 2022 yang diterbitkan oleh World Health Organization, perkiraan angka kejadian (insidensi) TBC di Indonesia meningkat 15 persen di antara tahun 2020 ke tahun 2021. Artinya, setiap satu menit ada dua orang yang sakit TBC. Dan, jika tidak diobati, seseorang dengan TBC dapat menginfeksi 10 hingga 15 orang di sekitarnya dalam satu tahun.

Namun, tidak semua orang yang terkena bakteri TBC akan jatuh sakit. Beberapa kelompok masyarakat lebih rentan terhadap infeksi ini karena kondisi imunitasnya yang lebih rendah. Kelompok yang rentan TBC adalah anak-anak terutama yang berusia di bawah lima tahun, orang lanjut usia, serta kondisi penyakit tertentu seperti Diabetes, HIV/AIDS, dan gizi buruk.

Oleh sebab itu, STPI berkolaborasi dengan Yayasan Penabulu membentuk Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI sebagai penerima hibah utama program TBC komunitas dari Global Fund to Fight Against HIV/AIDS, Tuberculosis, and Malaria (GF-ATM).
Konsorsium ini mendukung dan memperkuat sistem organisasi komunitas maupun upaya berbasis masyarakat dan penyintas TBC melalui promosi kesehatan, upaya pencegahan TBC pada balita dan anak-anak, skrining gejala TBC aktif, fasilitasi pemeriksaan TBC, dukungan psikososial pengobatan pasien, serta dukungan advokasi, umpan balik kualitas layanan, dan akses terhadap layanan hukum untuk meringankan stigma dan diskriminasi yang dialami pasien TBC dan keluarganya.

BACA JUGA:  Rancangan Perpres tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas Sebuah Langkah Anti Demokrasi

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI terus menunjukkan komitmennya untuk mencapai eliminasi TBC salah satunya melalui program mendukung pemberian TPT pada Balita. Sebuah studi memperkirakan, 120 juta orang di Indonesia mempunyai TBC laten. Kondisi ini dapat diketahui dengan tes mantoux atau tes darah (IGRA). Indonesia tidak akan berhasil mengatasi TBC jika tidak mengendalikan TBC laten. Saat ini sudah tersedia di Indonesia Terapi Pencegahan TBC (TPT) agar kondisi TBC laten tidak berkembang menjadi penyakit.

Saat ini, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mendukung program pemerintah bersama 9.212 kader TBC Komunitas di masyarakat untuk mendorong kesadaran masyarakat akan hak mereka atas kesehatan, termasuk bebas dari infeksi TBC dengan mengkonsumsi TPT. Di 190 kota/kabupaten pada 30 provinsi, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI telah mengedukasi 6.359 orang tentang infeksi TBC dan TPT, dan 5.604 diantaranya telah dirujuk untuk memulai terapi. Tindakan untuk mencegah TBC melalui TPT adalah cara konkrit kita untuk terlibat memutus mata rantai penularan TBC.

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melihat bahwa jiwa kerelawanan dan dedikasi kader TBC, Pasien Supporter dan Manajer Kasus dalam menemukan kasus, mendorong pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah dengan pasien TBC membawa optimisme bahwa Eliminasi TBC pada tahun 2030 bisa diwujudkan. Sehingga tema Hari Tuberkulosis Sedunia tahun kini terkait “Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk Mendukung Eliminasi TBC 2030”, dimaknai sebagai apresiasi dan dukungan yang berkelanjutan pada seluruh aktivis TBC Komunitas sebagai investasi tidak pernah selesai dan selalu aktif melakukan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif untuk mengatasi penyakit TBC.

Wilayah SSR Komunitas Penabulu-STPI Pekanbaru sendiri, telah berhasil mengajak 3 balita untuk memulai pengobatan TBC, 6 balita dan 10 anak usia < 5-14 tahun mendapat TPT. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari daya juang kader yang terus berdedikasi memberikan edukasi dan pendampingan kepada seluruh pasien TBC. Selain itu, untuk memaksimalkan kinerja pada momentum HTBS ini, SSR Pekanbaru mengadakan beberapa kegiatan untuk mendukung pencapaian Eliminasi TBC 2030.

BACA JUGA:  Tragedi Kanjuruhan dan Awal Kompetisi Sepakbola Indonesia

Adapun serangkaian kegiatan dalam Rangka Peringatan Hari TBC Sedunia tahun 2023 di wilayah kerja SSR Komunitas Penabulu-STPI Pekanbaru yakni pada tanggal 14-19 Maret 2023 telah dilaksanakan HTBS sekaligus menggelar kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) TBC. Yang melibatkan 1670 orang peserta yang terdiri dari populasi beresiko terinfeksi TBC, Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, SR PKBI Daerah Riau, 21 Puskesmas di Pekanbaru, Kader TBC, masyarakat dan perguruan tinggi serta organisasi lainnya.

Penyuluhan & Screening TBC

Kader TBC bekerjasama dengan Puskesmas memberikan edukasi TBC, screening dan merujuk orang yang bergejala TBC untuk diperiksa. Kegiatan yang dimulai dari tanggal 14-18 Maret 2023 ini melibatkan 1420 orang peserta dari Lapas/Rutan, pondok pesantren, sekolah, universitas, perusahaan dan kelompok beresiko TBC lainnya seperti Lansia dengan DM serta Orang Dengan HIV.

Diskusi Grup Terarah TBC

Dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS), 18 Maret 2023, Yayasan Sebaya Lancang Kuning mengadakan pertemuan di Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. Dengan tema “AYO BERSAMA AKHIRI TBC, INDONESIA BISA!” Narasumber dr. Luise Santhy Clara S, dokter yang bertugas di Puskesmas Rejosari menyampaikan edukasi mengenai TBC, pencegahan penularan salah satunya dengan TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis), gejala serta pengobatan. Narasumber lainnya berbagi pengalaman saat menderita TBC tapi patuh pengobatan dan sembuh.

Diskusi sangat interaktif antara peserta dan Narasumber. Harapannya kegiatan ini meningkatkan pemahaman tentang TBC, mengurangi stigma serta diskriminasi terhadap penderita TBC. Diakhir kegiatan, peserta discreening TBC dan dilakukan pengambilan sampel dahak untuk dilakukan pemeriksaan dengan tujuan deteksi dini dan penemuan kasus.

Kampanye “Komunitas Berdaya, Akhiri TBC Indonesia”

Dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2023, 19 Maret 2023. Yayasan Sebaya Lancang Kuning bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Riau dan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. Mengadakan kegiatan di Care Free Day Pekanbaru.

BACA JUGA:  Memaknai Pacu Jalur Sebagai Sebuah Tradisi Adat Rantau Kuantan

Serangkaian kegiatan dimulai dari Long March, Senam Bersama, Sambutan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Kampanye Edukasi TB oleh dr. Khairi Prawira – Puskesmas Pekanbaru Kota, Penampilan Seni, Promosi OKY, Promosi Kampus IKTA dan Promosi PIK-SMART Recruitment dan Juga Relawan PKBI (Form Relawan Remaja) dengan tujuan agar banyaknya masyakarat yang teredukasi tentang TBC sehingga tidak ada lagi diskriminasi yang terjadi dilingkungan tempat tinggal.

Untuk memeriahkan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2023 ini panitian kegiatan mengadakan pembagian Doorprize kepada pengunjung Care Free Day. Diharapkan bisa menyampaikan pesan hari Tuberkulosis Sedunia di Kota Pekanbaru yaitu “Komunitas Berdaya, Akhiri TBC Indonesia” dan bisa menurunkan angka positif TBC di Kota Pekanbaru serta meningkatkan kesadaran mengenai TBC.*

SSR Yayasan Sebaya Lancang Kuning – Pekanbaru
Rozi Asnita