Sekolah Pascasarjana Unilak Diskusikan Tantangan dan Peluang Pembangunan Pemulihan Nasional

Diskusikan soal Tantangan dan Peluang Pembangunan Menuju Pemulihan Nasional. Foto: Istimewa

 

BeritaAzam.com, Pekanbaru – Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, Riiau menyelenggarakan kegiatan kuliah umum yang bertajuk Tantangan, dan Peluang Pembangunan Menuju Pemulihan Nasional, Sabtu, 29 Oktober 2022.

Kuliah umum ini dibuka oleh Ketua Yayasan Pendidikan Raja Ali Haji Prof Irwan Efendi MSc.

Kuliah umum yang diselenggarakan di aula pustaka Unilak tersebut dimoderatori oleh Wakil Dekan III Sekolah Pascasarjana Unilak Muhammad Rasyid Abdillah SE MM PhD.

Sebagai narasumber, Unilak menghadirkan Staf Ahli Menteri Menteri PPN/Ka Bappenas Erwin Dimas SE DEA MSi.

Kegiatan kuliah umum tersebut berjalan lancar dan diikuti 320 orang mahasiswa Sekolah Pascasarjana Unilak.

Dekan Sekolah Pascasarjana Unilak Dr Adolf Bastian MPd mengawali sambutannya memberi apresiasi kepada Ketua Yayasan terhadap kegiatan tersebut, khususnya kepada Staf Ahli Menteri Menteri PPN/Ka Bappenas yang bersedia dan berkesempatan hadir dalam menjawab isu, tantangan, dan peluang pembangunan menuju pemulihan nasional.

“Kami menaruh harapan dengan adanya kegiatan seperti ini. Karena dapat menyadarkan, membukakan mata kita bahwa perjalanan membangun daerah kita di Riau ini masih panjang dengan segala tantangan menghadang. Untuk itu, kekuatan kepemimpinan daerah sangat dibutuhkan dalam menciptakan inovasi serta kolaborasi dengan berbagai kalangan, khususnya pada kalangan akademisi, hingga peningkatan kualitas SDM. Dan ini menjadi syarat mutlak bagi daerah untuk mampu mengakselerasi pembangunan secara terpadu dan bersinergi antar bidang, baik ekonomi, sosial dan infrastruktur, sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat yang lebih baik ke depan,” ujar Dr Adolf Bastian.

Dikabarkan, dalam kuliah umum tersebut, Staf Ahli Menteri Menteri PPN/Ka Bappenas Erwin Dimas SE DEA MSi mengajak peserta untuk menemukan arah pembangunan dan memfokuskan materinya pada pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Riau.

Dalam paparannya, Erwin Dimas mengabarkan,tahun 2022 merupakan tahun pertama mulai lepas dari tekanan COVID-19, sekaligus tahun kunci pemantapan pemulihan ekonomi.

“3 Tahap Besar Bangsa Indonesia saat Ini menurunkan kasus, pemulihan dan transformasi ekonomi. Pada tahap transformasi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia harus menuju upper middle income country,” imbuhnya.

Erwin Dimas juga menyampaikan, faktor penghambat utama pertumbuhan jangka panjang adalah keuangan dan infrastruktur. Dari aspek keuangan, faktor penghambatnya adalah terbatasnya financial inclusion (literasi berinvestasi) dan penyaluran kredit belum maksimal. Pada aspek Infrastruktur, kualitas kondisi jalan yang masih perlu ditingkatkan merupakan faktor penghambat yang utama. Padahal,mnberdasarkan data BPS (2021), Riau sebagai 5 provinsi terbesar kontributor industri manufaktur.

“Strategi pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Riau yang dapat kita lakukan adalah kuatkan engine of growth dan kuatkan pondasi ketahanan. Dengan kata kunci, berani untuk fokus, jejaring aktif antar instansi dan mendorong peran swasta,” tuturnya.

Berdasarkan The Global Competitiveness Report 2019 yang disusun oleh World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati urutan ke-72 dari 141 negara dalam hal pembangunan infrastruktur.

Urutan tersebut menunjukkan masih lemahnya kondisi infrastruktur di Indonesia yang ditandai dengan kurangnya kualitas dan kuantitas infrastruktur eksisting dan berimbas pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berjalan dengan tidak efisien.

Apalagi dalam masa pandemi COVID-19 yang sedang menyerang dunia saat ini, respons kebijakan yang tepat perlu ditempuh agar dampak pandemi tidak menjerumuskan ekonomi Indonesia ke dalam jurang resesi yang lebih dalam.*