Terima Anugerah Prakarsa Inklusi dari Komnas Disabilitas, Rektor Unilak: Ini Spirit Bagi Kami

Saat di Jakarta juga dilakukan penandatanganan Mou antara Unilak dan Komnas Disabilitas

BeritaAzam.com, Pekanbaru – Universitas Lancang Kuning Pekanbaru (Unilak) menerima Anugerah Prakarsa Inklusi dari Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia (Komnas).

Anugerah ini diterima Unilak atas komitmennya dalam memberikan hak-hak penyandang disabilitas di perguruan tinggi. Dan Unilak menjadi perguruan tinggi satu-satunya di Sumatera yang meraih penghargaan ini.

Penghargaan langsung diberikan oleh Ketua Komisi Nasional Disabilitas Dr Dante Rigmalia MPd kepada Rektor Unilak Dr Junaidi di Jakarta, Selasa, 10 Oktober 2022.

Acara penyerahan penghargaan ini disaksikan anggota Komisioner Komisi Nasional Disabilitas Jona Aman Damanik.

Sementara dari Unilak turut hadir Kepala Pusat Layanan Psikologi dan Disabilitas Unilak Helena Filtri MPsi.

Ketua Komisi Nasional Disabilitas Dr Dante Rigmalia MPd menyampaikan, Komnas Disabilitas menilai Unilak berhasil membuat program dan memberikan dukungan gerakan Indonesia Inklusif ramah disabilitas dalam menerima mahasiswa penyandang disabilitas untuk mendapatkan hak pendidikan di perguruan tinggi.

“Saya mengucapkan selamat kepada Dr Junaidi atas anugerah ini. Semoga ini memotivasi Unilak untuk bisa membantu penyandang disabilitas untuk peningkatkan SDM. Sehingga nanti kami bisa berkontribusi kepada negara. Dengan diberikan akses pendidikan, maka kami bisa, ini bisa menjadi motivasi untuk semua,” ujar Dr Dante.

Sementara itu, Dr Junadi mengucapkan terimakasih kepada Komnas Disabilitas RI yang memberikan penghargaan. Penghargaan ini menjadi spirit kami di Unilak maupun di Riau bumi Lancang Kuning untuk berusaha membantu penyandang disabilitas mendapatkan hak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

“Kami telah mendeklarasikan, bahwa Unilak menuju kampus ramah disabilitas. Dan tahun ini pada penerimaan mahasiswa baru ada 17 penyandang disabilitas yang kuliah di berbagai fakultas di Unilak,” ujar Dr Junaidi.

Selama ini, sebut Dr Junaidi, teman-teman penyandang disabilitas di Riau kesulitan untuk melanjutkan pendidikan seusai tamat dari Sekolah Luar Biasa/sekolah lainnya.

“Kemudian saya berpikir bagaimana caranya agar mereka juga berhak untuk dapat akses pendidikan di kampus. Allahmdulilah pelan-pelan akhirnya keinginan tulus membantu penyandang disabilitas di Riau terwujud dengan berdirinya Prodi Pendidikan Khusus, berdirinya Pusat Layanan Psikologi dan Disabilitas, kemudian memperkuat tata kelola kampus, menyediakan penerjemah bahasa isyarat, penguatan literasi, pelatihan bahasa isyarat bagi dosen pegawai dan lain-lain,” ujar Dr Junaidi yang juga tokoh pendidikan di Riau ini.*