Seleb  

Ternyata Nama Tambahan Fals Pada Iwan Fals Diberi Orang Bengkel, Kok Bisa?

Iwan Fals

Beritaazamcom, Jakarta – Pada 3 September 1961 menjadi hari penting bagi Komunitas Oi, Orang Indonesia, para penggemar Iwan Fals. Karena Pada tanggal itu, legenda hidup musik Indonesia, Virgiawan Listanto atau Iwan Fals tahun ini berusia 61 tahun.

Musisi balada yang populer pada era 1980-an tersebut terkenal dengan lagu-lagunya yang kritis terhadap masalah sosial di Indonesia. Bahkan oleh majalah Rolling Stones Indonesia, Iwan Fals masuk ke dalam daftar The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa.

Masa Kecil Iwan Fals

Iwan Fals merupakan buah hati dari pasangan Lies Suudijah dan Kolonel Anumerta Sucipto. Ibunya berasal dari Tasikmalaya, sedangkan ayahnya dari Purwokerto. Ayahnya merupakan petinggi pabrik Gula di Kalibagor, Banyumas Jawa Tengah.

Saat kecil, musisi tersebut akrab dengan panggilan “Tanto”. Kata ibunya, ketika berumur bulanan, Tanto selalu menangis setiap kali mendengar suara adzan magrib.

Masa kecilnya dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya ke Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Sebab tinggal di negeri orang, Iwan kecil sering merasa bosan dan membutuhkan hiburan. Satu-satunya hiburan yang ia miliki kala itu adalah gitar yang dibawa dari Indonesia.

Semasa di Jeddah, lagu seperti “Sepasang bola mata” dan “Waiya” menjadi tembang yang sering dimainkan Iwan Fals. Siapa sangka, gitar yang menjadi satu-satunya hiburannya saat itu telah menuntunnya menjadi salah satu musisi terbesar sepanjang masa di tanah air.

Asal Usul Nama “Fals”

Dikutip dari Tempo.co, Iwan mengatakan nama Flas itu diperolehnya dari sahabatnya bernama Engkus, tukang bengkel sepeda motor di kampungnya. Cerita itu diungkapkan Iwan Fals dalam video yang diunggah di kanal Youtube Noice.

Engkus juga yang memberikan nama panggung kepada Iwan Fals dengan alasan, kalau pun manggung dan suaranya fals sudah terinformasi lebih dahulu. Engkus ini, menurut Iwan bisa disebut manajernya di awal kariernya.

Kritik Sosial Sang Balada

Melalui karya-karyanya, ia memotret sosial kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang.

Mengkritik perilaku sekelompok orang dengan single Wakil Rakyat, Umar Bakri dan Tante Lisa, memberi empati bagi kelompok marginal melalui tembang Siang Seberang Istana maupun Lonteku. Hingga wujud kepedulian akan bencana besar yang melanda Indonesia atau terkadang juga di luar Indonesia, seperti Ethiopia.

Unsur seperti itu mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Walaupun demikian, Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Ia mendapat berbagai pujaan berkat lagunya, namun tak jarang pula menuai kecaman dan represi pada masa orde baru berkat lagunya. Itu pula yang menjadikannya sering keluar masuk penjara di masa itu.

Kesederhanaan Iwan Fals menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh nusantara. Penggemar fanatiknya bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan Oi.

Yayasan tersebut mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui di setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Iwan Fals saat ini

Walaupun nertambah usia, Iwan Fals tak pernah berhenti berkarya. Contohnya pada 2019 lalu saat menjelang pilpres, ia sempat menggelar konser cinta dan perdamaian di Ecopark Ancol pada 30 maret 2019 silam.

Tak hanya itu, ia juga masih aktif dalam dunia tarik suara yang telah membesarkan namanya. Iwan Fals masih sering menggelar konser dengan tema bermacam macam. Seperti Sogili Toleransi Poso pada 2022 ini serta Konser Bertalu Rindu “Cinta” yang bertepatan dengan ulang tahunnya ke-61.*