Memaknai Pacu Jalur Sebagai Sebuah Tradisi Adat Rantau Kuantan

Opini Dr. Fikri., S.Psi.,M.Si

Salam Kayuaahhh…!
Bulan Agustus adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Provinsi Riau karena ada perhelatan besar dari pemerintah Kuansing yaitu perhelatan pacu jalur sebagai sebuah tradisi masyarakat Kuansing yang sudah dilakukan sejak tahun 1903. Hal ini berarti tradisi pacu jalur sudah 119 tahun sudah dilaksanakan oleh masyarakat di Kuantan Singingi.

Mengingat lamanya tradisi ini dilakukan oleh penduduk Kuansing maka perlu menjadi catatan dan perhatian serius bagi pemerintah bahwa tradisi ini bukan hanya sebagai sebuah perhelatan lomba dan eforia sesaat pada peringatan 17 Agustus setiap tahunnya saja, akan tetapi yang perlu digaris bawahi sejauh mana tradisi ini dimaknai dan internalisasi nilai-nilai adat atau nilai nilai moral yang terkandung didalamnya yang perlu disampaikan kepada generasi muda saat sekarang ini agar nilai-nilai yang terkandung didalamnya tetap lestari dan tidak musnah di telan arus globalisasi zaman.

Saya sebagai seorang dosen dan jati diri asal Kuansing sangat berbangga dengan perhelatan pacu jalur ini karena even yang epic ini sudah menjadi event nasional masuk dalam kalender pariwisata nasional dan pacu jalur ini merupakan sebuah Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang dikeluarkan oleh Kementerian kebudayaan Indonesia pada tahun 2015 sekaligus menjadi wisata budaya unggulan. Pada tahun 2022 ini even pacu jalur ini masuk dalam doodle di google selama bulan agustus ini. maka sebagai seorang akademisi dan pengamat sosial muncul pertanyaan dalam pikiran saya. bagaimana sejarah pacu jalur?, apa nilai-nilai moral dan nilai sosial kemasyarakatan yang terkandung didalamnya,serta bagaimana proses jalur tersebut?

Nah, nilai-nilai ini lah yang perlu di teruskan dan di internalisasi kedalam diri generasi muda kuansing agar nilai tersebut tetap lestari sampai keanak cucu kita. Permasalahannya adalah generasi muda kita pada saat sekarang ini tidak mendapatkan ilmu, pengetahuan, bacaan dan kurangnya keterlibatan mereka dalam proses tradisi tersebut, disisi lain penyedian bacaan,penelitian dan pengenalan budaya dalam bentuk kurikulum budaya melayu di sekolah sekolah juga kurang sehingga tradisi pacu jalur ini bisa terancam punah.

Mari secara singkat kita mengenali pacu jalur seperti apa:

Sejarah Pacu jalur:

Pacu Jalur sudah ada sejak tahun 1903. Pacu Jalur adalah Pesta Rakyat kebanggan Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Sejarah Pacu Jalur berawal abad ke-17, di mana jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan CerentiKecamatan Cerenti di hilir. Saat itu memang belum berkembang transportasi darat.

Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40-60 orang. Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).

Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Baru pada 100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antar jalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur.

Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus. Dapat digambarkan saat hari berlangsungnya Pacu Jalur, kota Jalur bagaikan lautan manusia.

Terjadi kemacetan lalu lintas di mana-mana, dan masyarakat yang ada diperantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100. Menurut masyarakat setempat jalur adalah ‘perahu besar’ terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu).

Perlombaan yang konon sudah ada sejak tahun 1903 ini menjadi agenda tetap Pemerintah Provinsi Riau untuk menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung ke Riau, khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi.

Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Kegiatan pacu jalur pada zaman Belanda di mulai pada tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september. Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut pacu.

Kini warna warni kostum dan dentum suara meriam penanda mulai lomba, serta teriakan pemberi semangat menjadi daya tari budaya local asli Kuantan Singingi Riau yang pantas dinanti dan dinikmati.

Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Pacu Jalur

Jalur merupakan wujud kebudayaan bagi masyarakat Kuantan Singingi yang diwariskan secara turun temurun. Bagi masyarakat Rantau Kuantan jalur memiliki makna tersendiri, baik bagi diri pribadi maupun sebagai warga kampung. Jadi, tidak sempurna suatu kampung jika warganya tidak mempunyai jalur. Jalur merupakan hasil karya budaya yang memiliki nilai estetik tersendiri, dan juga mencakup kreativitas dan imaginasi. Pacu jalur merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama dan tetap dipertahankan oleh masyarakat Kuantan Singingi dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

Bagi masyarakat setempat, Pacu Jalur merupakan puncak dari seluruh kegiatan, segala upaya, dan segala keringat yang mereka keluarkan untuk mencari penghidupan selama setahun. Tradisi pacu jalur masyarakat Kuantan Singingi menuntut adanya solidaritas sosial masyarakat. Tanpa kekompakan dan kebersamaan warga masyarakat, jalur tidak akan mungkin diwujudkan. Salah satu bentuk solidaritas masyarakat diperlihat dalam tahapan maelo.

Maelo atau menarik (kayu atau jalur setengah jadi) merupakan suatu tahapan dalam pembuatan jalur. Tahapan ini dilakukan setelah kayu jalur ditebang. Mengingat maelo merupakan pekerjaan yang berat yang memerlukan banyak tenaga manusia, maka amat diperlukan solidaritas dan partisipasi masyarakat. Dalam kegiatan maelo seluruh warga masyarakat terlibat, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka beramai-ramai pergi ke hutan untuk maelo jalur atau kayu jalur.

Proses Pembuatan Jalur

Proses pertama dalam membuat sebuah jalur adalah pemilihan kayu. Kayu yang dipilih menjadi jalur bukan kayu sembarangan. Biasanya dicari di tengah hutan dan melibatkan ritual mistik oleh seorang pawang. Prosesi itu dilakukan untuk menghindari gangguan roh jahat ketika pohon ditebang. Menebang pohon harus ada ritual khusus dan prosesinya.

Bukan sembarang pohon ditebang, saat akan membuat jalur warga menilainya sebagai acara adat yang sakral. Pada proses ini yang menjadi permasalahan kedepan dalam pelestarian tradisi pacu jalur ini adalah tidak adanya pelestarian hutan khusus untuk bahan dasar pembuatan jalur dan untuk mendapatkan kayu yang kuat dan besar untuk pacu jalur.

Pada saat sekarang ini hutan di Kuansing habis dirambah dan digunakan untuk kebun kelapa sawit dan karet maka perlu usaha pemerintah harus berbuat tegas pada oknum permabah hutan dan mempunyai Kawasan hutan lindung atau hutan larangan, dan masyarakat kuansing harus mempunyai kesadaran menjaga hutan demi melestarikan bahan baku pembuatan pacu jalur ini agar tradisi ini tetap dipertahankan sampai anak cucu.

Proses kedua adalah proses menebang kayu dan proses ketiga disebut dengan Maelo Jalur. Maelo jalur adalah kegiatan menyeret sebatang jalur atau kayu bulat jenis kempas. Kayu tersebut berdiameter 60 cm dengan panjang 30 – 50 meter diikatkan dengan tali rotan lalu ditarik beramai-ramai oleh sejumlah orang. Setelah kayu didapat, proses Maelo Jalur pakai rotan ke kampung dilaksanakan. Dalam prosesi ini ada beberapa aturan yang harus disepakati untuk menjaga kekompakan.

Saya pernah ikut proses ini di jalur Kampung saya di Kinali yang dikenal dengan jalur Kompe Sakti, disinilah saya sadar akan nilai nilai yang terkandung dalam proses maelo jalur ini, semua orang sekampung ikut berpartisipasi, baik yang tua atau yang muda, lelaki ataupun perempuan, semangat gotong royong, kebersamaan dan sosial kemasyarakatn terasa, sehingga tidak heran jika saat pacu jalur semangat akan kecintaan dan pendukung fanatisme pada jalur itu ada.

Pada masa lampau, Maelo Jalur diikuti hampir seluruh penduduk kampung. Mereka bergotong royong menjalin rasa kekompakan dan kebersamaan. Lewat kekuatan dan kebersamaan kayu jalur bisa sampai ke kampung. Kegiatan sudah menjadi tradisi ditunggu-tunggu masyarakat, terutama para pemuda dan pemudi Kuansing.Setelah prosesi menarik jalur selesai, kayu bulat itu dibuat menjadi jalur atau perahu sampan yang bisa memuat 60 pendayung.

Pembuatnya adalah satu orang profesional diampingi lima orang asisten. Proses produksi memakan waktu sebulan sampai dua bulan. Sementara biaya pembuatannya mencapai puluhan juta rupiah. Pada proses terakhir adalah menyalai jalur, pada acara ini semua ibu-ibu dikampung akan memasak masak makanan dan konji khas kuansing. Setelah selesai makan Bersama sekampung dan jalur siap untuk dilombakan.

Berdasarkan proses dan nilai yang terkandung didalam even pacu jalur ini ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan oleh saya agar perhelatan pacu jalur ini tidak punah.

Bagi pemerintah disarankan dapat menjadikan even pacu jalur ini bukan hanya sebagai sebuah even perlombaan saja, tetapi bisa mempromosikan, mengenalkan budaya pada setiap kecamatan di Kuansing, dengan membuat festival budaya selama pacu jalur. Selain itu memperdayakan ekonomi kreatif masyarakat tempatan dalam acara pacu jalur ini sehingga masyarakat bisa diperdayakan.

Selain itu perlu dibuat sebuah satgas yang melestarikan hutan lindung untuk menjaga bahan baku utama dari jalur tersebut, apabila ini tidak diperhatikan dengan serius, beberapa tahun kedapan tradisi jalur akan punah karena bahan bakunya tidak tersedia lagi.

Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana nilai nilai yang terkandung dalam tradisi pacu jalur tersebut masuk dalam kuriukulum mata pelajaran budaya melayu Kuansing sehingga generas penerus bangsa kita ini tidak lupa akan nilai-nilai dasar atau kearifan lokal yang mereka punya sebagai sebuah identitas bangsa dan dirinya sendiri. Harapan saya dengan perhatian khusus dari pemerintah dan kesadaran yang tinggi dari masyarakat tradisi pacu jalur ini tetap ada dan lestari sampai anak cucu kita nantinya, untuk itu perlu menjadi perhatian kita semua.*

 

Oleh: Dr. Fikri., S.Psi.,M.Si

*Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau dan Pengamat Sosial Asal Kuantan singingi